Showing posts with label TIPS MENGAJAR EFEKTIF DAN MENYENANGKAN. Show all posts
Showing posts with label TIPS MENGAJAR EFEKTIF DAN MENYENANGKAN. Show all posts

Wednesday, December 11, 2019

Terbaik Metode Read Aloud (Membacakan Buku Untuk Anak), Pada Usia Emas (Golden Age / 0-5 Tahun) Anak Sanggup Menyerap Isu Dengan Sangat Cepat

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Ada beberapa metode pembelajaran bagi anak, dan tentunya semua metode pembelajaran bertujuan untuk mengoptimalkan efektifitas pada suatu pembelajaran itu sendiri.

Salah satu metode pembelajaran efektif bagi anak yang telah populer diseluruh dunia salah satunya yaitu metode Read Aloud (membacakan buku untuk anak). Terkait dengan hal tersebut, berikut share khusus dari situs Kemdikbud.go.id yang bertajuk Read Aloud, Metode Membacakan Buku untuk Anak-anak pada momen hari buku sedunia (tanggal 23 April 2015) selengkapnya…

World Book Day atau Hari Buku Sedunia yaitu program tahunan yang dirayakan setiap tanggal 23 April. Untuk ikut merayakan Hari Buku Sedunia, Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menyelenggarakan acara “Pencanangan Gerakan 10 Menit Membacakan Cerita (Read Aloud) untuk Anak” pada bulan Mei 2015.

Read Aloud merupakan salah satu metode membacakan buku untuk anak. Metode ini diperkenalkan oleh Jim Trelese dalam bukunya The Read Aloud Handbook. Read Aloud yaitu metode mengajarkan membaca yang paling efektif untuk bawah umur alasannya yaitu dengan metode ini kita bisa mengkondisikan otak anak untuk mengasosiasikan membaca sebagai suatu acara yang menyenangkan. Juga membuat pengetahuan yang menjadi dasar bagi si anak, membangun koleksi kata/kosakata (vocabulary), dan memperlihatkan cara membaca yang baik (reading role model).

Saat usia emas (golden age), yaitu 0-5 tahun, anak akan sanggup menyerap dengan sangat cepat. Dengan potensi yang sedemikian ahli itu, maka mengenalkan anak untuk membaca di usia dini tentunya tidak menjadi masalah, asalkan caranya tidak membuat anak stress bahkan terbebani harus bisa membaca.  Yang dilakukan bukan membuat anak bisa membaca, tapi membuat anak suka membaca.

Read aloud sanggup dimulai semenjak dini, bahkan semenjak semester ke-3 kehamilan. Karena itu  semakin dini buku diperkenalkan, maka balasannya akan semakin optimal dalam upaya menumbuhkan kecintaan anak pada buku dengan bonusnya anak akan bisa membaca dengan sendirinya.

Read Aloud juga sanggup dilakukan di mana saja dan kapan saja. Bisa di rumah, dikala hendak tidur, sepanjang perjalanan berkendara, menunggu pesawat atau kereta api, atau dikala menunggu antrian dokter. Yang perlu diperhatikan yaitu frekuensi dan konsistensi melaksanakan read aloud. Rutinitas  yaitu kunci utama keberhasilannya.

Manfaat read aloud antara lain sanggup membangun keterampilan literasi melalui pengenalan bunyi, intonasi, kemampuan mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Read Aloud juga membantu anak menambah kosa kata, terutama kosa kata bahasa buku yang dipergunakan untuk membaca.

Kedekatan orang bau tanah dengan anak juga bisa dicapai alasannya yaitu anak terbiasa dengan bunyi orang bau tanah dan terdapat ‘skin to skin contact’ ketika membacakan cerita, serta terdapat juga kedekatan dengan buku. Orang bau tanah yang membacakan kisah kepada anak juga pribadi menjadi pola membaca bagi anaknya (reading role model). (Desliana Maulipaksi)

Sunday, November 17, 2019

Terbaik Empat Contoh Pengajaran Dalam Pendidikan Supaya Penerima Didik Siap Menghadapi Tantangan Periode Depan

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif ialah empat teladan pengajaran yang sanggup diterapkan kepada akseptor didik supaya mereka siap menghadapi tantangan masa depan. Jika dulu pendidikan lebih menekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, maka pendidik masa depan ialah pendidik yang bisa membaca perubahan zaman.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan, empat teladan pengajaran tersebut sifatnya ialah mengajarkan, menginspirasi, dan menggerakkan. Jika seorang guru sanggup melaksanakan empat teladan ini, secara tidak eksklusif mengajak siswa untuk melihat tantangan masa depan.

 "Guru yang menjadi teladan untuk berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif sangat dibutuhkan bagi para guru masa depan," katanya pada program pertemuan dengan 500 pendidik dan tenaga kependidikan, di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (03/08/2015).

Mendikbud mengatakan, dengan pendidikan yang menginspirasi dan menggerakkan, para siswa akan sanggup bersaing di masanya. Dan gurunya, kata dia, dengan menjadi seorang inspirator bagi siswanya tentu akan diingat sepanjang masa.

Mendikbud menekankan, berbicara mengenai pendidikan tidak selalu berbicara administratif, tetapi juga berbicara pendidkan dalam arti luas. Guru diperlukan sanggup selalu berinteraksi dengan baik kepada para siswa. Dengan adanya interaksi yang baik antara guru dan siswa, maka para siswa akan meneladani dengan melihat apa saja yang dilakukan gurunya.

Mendikbud berharap, pembinaan yang diselenggarakan oleh LPMP ataupun forum pembinaan lainnya sanggup mengambil tugas dengan memasukkan dalam materi pembinaan perihal berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.

"Jika itu diterapkan dalam proteksi materi pelatihan, maka menjadi bab dari membuat guru masa depan. Selain itu juga penekanan interaksi baik antara guru dan siswa menjadi kunci keberhasilan dalam proses mencar ilmu mengajar," kata Mendikbud. (Seno Hartono)

Sunday, November 10, 2019

Terbaik Proses Pendidikan Harus Menyentuh Huruf Dengan Seni Administrasi Keteladanan, Adaptasi Rutinitas, Dan Disiplin

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Menumbuhkan huruf mulia pada diri anak diharapkan interaksi yang baik antara orang tua, sekolah, dan masyarakat. Lingkungan rumah, sekolah, dan keseharian bawah umur harus menerapkan seni administrasi pengembangan huruf dan sikap biar terbentuk kepribadian anak yang baik.

Demikian diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan dalam Seminar Nasional Pendidikan yang diselenggarakan di Gedung Merdeka Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung, Sabtu (28/2/2015). Seminar yang dihadiri oleh secara umum dikuasai guru dan kepala sekolah ini bertajuk "Investasi Bangsa Melalui Pendidikan Karakter Sejak Dini untuk Membangun Indonesia yang Bermartabat".

"Proses berguru yang tidak menyentuh huruf bukanlah disebut sebagai pendidikan. Oleh alasannya itu, huruf itu harus. Maka tumbuhkan huruf baik pada bawah umur itu dengan tiga seni administrasi pengembangan huruf dan perilaku," tegas Mendikbud.

Strategi itu yakni keteladanan, adaptasi rutinitas, dan disiplin. Menurut Mendikbud menumbuhkan huruf bukan dilakukan melalui lisan, melainkan perbuatan. Mendikbud mencontohkan, kalau orang bau tanah ingin anaknya mematuhi rambu-rambu kemudian lintas, maka orang bau tanah juga harus melakukannya dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak melanggar peraturan selama berada di jalan raya.

Ketegasan yang mendidik juga perlu diterapkan biar menumbuhkan dogma antara anak dan orang tua, guru, serta masyarakat. Mendikbud kembali mencontohkan, anak terkadang melaksanakan negosiasi-negosiasi biar keinginannya dipenuhi.

Orang bau tanah harus menjaga konsistensi terhadap keputusan yang telah ia tetapkan. "Misalnya, orang bau tanah harus pergi, sementara anak tetap tinggal di rumah. Meski anak merengek, orang bau tanah harus menjaga ketegasan terhadap keputusannya. Dengan diberikan pengertian ibarat itu, anak perlahan akan tumbuh mutual trust terhadap orang tuanya," tutur Mendikbud.

Oleh alasannya itu, Kementerian mempunyai cita-cita, yaitu terbentuknya manusia dan ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter dan dilandasi semangat gotong royong. "Kami ingin ada penguatan terhadap aktor-aktor pendidikan, yaitu orang tua, guru, kepala sekolah, biar apa yang kita cita-citakan terwujud demi pendidikan di Indonesia yang lebih baik," jelasnya. (Ratih Anbarini)

Friday, November 8, 2019

Terbaik Jadikan Sekolah Menyerupai Taman, Anak Tiba Ke Sekolah Dengan Bahagia Dan Pulangnya Terasa Berat

Sahabat Edukasi yang dikala ini sedang berbahagia…

Sekolah yang efektif selalu bisa menciptakan akseptor didiknya betah untuk belajar,.

Dan tentu saja ada beberapa seni administrasi yang bisa diterapkan di sekolah satunya yang mana yang menjadi referensi dari seni administrasi ini tentu saja bapak/ibu guru yang mengajar di sekolah tersebut.


Berikut ulasan selengkapnya terkait dorongan dari Kemdikbud kepada guru untuk mengakibatkan sekolah mirip taman, yang admin share dari Okezone.com, sebagai berikut :

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menegaskan, untuk memperbaiki dunia pendidikan perlu kolaborasi dari aneka macam pihak. Salah satu pihak terpenting dalam memperbaiki dunia pendidikan ialah kiprah seorang guru atau tenaga pendidik.

"Kemajuan pendidikan itu ada pada pendidiknya. Guru harus jadi kunci kemajuan (pendidikan)," kata Anies, di Bandung, tadi malam.

Selain harus mempunyai kemampuan yang baik dalam mengajar, guru juga harus bisa menciptakan suasana dunia pendidikan nyaman. Dia pun mengibaratkan sekolah harus jadi mirip taman.

"Taman itu sebuah daerah yang jika anak datang, beliau tiba dengan senang, pulang dengan berat. Sudahkah sekolah mirip taman? Justru terbalik, anak tiba dengan berat hati, pulang dengan senang hati," jelasnya.

Ia pun mengingatkan kepada para sekolah dan guru untuk menciptakan suasana berguru menjadi nyaman. Caranya, bisa dilakukan dengan aneka macam hal. Yang terpenting, siswa tiba bersemangat ke sekolah untuk mendapat ilmu pengetahuan.

"Kepala sekolah harus sadar bahwa kiprah Anda menciptakan suasana berguru jadi menyenangkan. Guru juga begitu (tugasnya). Sederhana berdasarkan saya," ucap Anies. (fsl)

Terbaik Mengenal Ciri-Ciri Guru Jago - Kurikulum Apa Pun, Guru Harus Berprestasi Dan Menginspirasi

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Ada aneka macam seni administrasi seorang guru andal dalam pengabdiannya dalam upaya mencerdaskan belum dewasa bangsa, selain daripada guru andal itu sanggup menyenangkan muridnya. Lalu apa saja ciri-ciri seorang guru yang andal itu…?

Karena di balik murid yang andal niscaya ada guru yang andal di belakangnya  (silahkan dibaca : Di Balik Siswa Yang Hebat Ada Guru Yang Hebat - Guru Hebat Dapat Menciptakan Suasana Belajar Yang Menyenangkan Bagi Siswa).

Selain itu, Guru andal juga sanggup membuatkan potensi siswa dengan kurikulum apa pun dan dalam situasi apa pun. Berikut ulasan yang admin share dari Okezone.com selengkapnya…

Polemik penerapan Kurikulum 2013 menciptakan guru Indonesia ikut menjadi sorotan. Banyak pihak menilai, kualitas guru di Tanah Air belum mumpuni untuk menerapkan pengganti Kurikulum 2006 tersebut.

Kurikulum sendiri akan berubah mengikuti situasi politik, sosial, budaya dan perkembangan teknologi. Sementara itu, kiprah guru tidak berubah. Apa pun kurikulumnya, guru harus memastikan penerima didik tumbuh dan berkembang sesuai potensi masing-masing dalam situasi dan kondisi yang ada.

Inilah yang dibahas dalam seminar bertajuk, "Aku Guru Hebat Apapun Kurikulumnya" yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Pendidikan Profesi Guru (Pusbang PPG) Lembaga Pengembangan Pendidikan Profesi (LP3) Universitas Negeri semarang (Unnes). Melalui seminar ini, Unnes mengajak seluruh guru untuk tetap siap mengajar dengan kurikulum apa pun yang ditetapkan pemerintah.

Guru Besar Universitas Negeri Yogyakara (UNY), Prof. Suwarsih Madya menyampaikan bahwa guru andal ialah mereka yang mempunyai kompetensi lebih, bukan guru yang sekadar memenuhi standar.

"Untuk menjadi guru yang hebat, harus mendidik dengan niat sebagai ibadah, memperkokoh kepribadian, meningkatkan kompetensi secara kontinyu dengan memahami konteks secara menyeluruh,” kata Suwarsih, ibarat dinukil dari laman Unnes, Kamis (29/1/2015).

Mantan atase pendidikan Indonesia di Thailand ini juga menyampaikan bahwa, guru yang andal ialah guru yang bisa menyusun, melaksanakan, dan menawarkan evaluasi terkait pembelajaran kapan dan dimana saja ia ditempatkan. Guru hebat, imbuh Suwarsih, harus fokus dalam pengembangan seluruh potensi yang dimiliki penerima didiknya.

Sejalan dengan itu, guru berprestasi tingkat nasional 2014, Farida Fahmalatif SPd MPd, mengajak rekan-rekannya sesama guru untuk sanggup menyikapi kurikulum 2013 dengan positif. Menurut Farida, kepercayaan dan keyakinan masyarakat menuntut guru membuatkan kompetensi personal, sosial, pedagogik dan profesional.

"Kurikulum apa pun, guru harus berprestasi dan menginspirasi," ujar Farida. (rfa)

Silahkan dibaca juga Proses Pendidikan Harus Menyentuh Karakter Dengan Strategi Keteladanan, Pembiasaan Rutinitas, dan Disiplin. Semoga bermanfaat dan terimakasih. Salam Edukasi…!

Referensi artikel : Mengenal Ciri Guru Hebat - Okezone.com

Wednesday, October 30, 2019

Terbaik Dalam Mengajar, Guru Harus Utamakan Pakem (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Dan Menyenangkan)

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Program USAID untuk Pembelajaran yang Baik (USAID-PRIORITAS) mengajarkan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) untuk guru pendamping di sekolah pengguna KTSP dan Kurikulum 2013 (K13).

”Apa pun kurikulumnya yang penting ialah PAKEM,” kata Koordinator USAID PRIORITAS Jawa Timur, Silvana Erlina di sela-sela Pelatihan Pelatih untuk Lamongan, Jombang, Banyuwangi, dan Batu di Surabaya, kemarin. Didampingi ”Whole Schole Development” USAID-PRIORITAS Dyah Haryati Puspitasari, Kepala SMPN 2 Batu Barokah Santoso, dan Guru SD Temas 1 Batu Dian Tri W, beliau menjelaskan, seribu kali ganti kurikulum tidak akan meningkatkan kualitas siswa kalau cara guru mengajar tidak berubah.

”Karena itu, PAKEM itu penting, baik untuk guru sekolah pengguna KTSP maupun Kurikulum 2013. KTSP itu lebih menekankan aspek kognitif, sedangkan K13 lebih komprehensif mulai dari kognitif, keterampilan, sampai sikap. Selain itu, sistem evaluasi K13 lebih deskriptif, sedangkan KTSP hanya bersifat angka,” katanya.

Dalam training kali ini, pihaknya memisahkan guru pengguna KTSP dengan pengguna K13 dalam kelompok berbeda, namun bahan training tetap sama, yakni PAKEM, kecuali kelompok KTSP perlu diajari sistem evaluasi autentik yang deskriptif. ”Kunci peningkatan kualitas pendidikan ialah membuatkan nalar siswa sesuai potensi yang dimiliki, baik secara fisik maupun mental”.

Karena itu, guru harus aktif dalam proses pembelajaran aktif atau PAKEM (SD/MI) atau contextual teaching and learning atau CTL (SMP/MTs),” ungkapnya. Menurut ”Whole Schole Development” USAID-PRIORITAS Dyah Haryati Puspitasari, PAKEM atau CTL itu menempatkan guru sebagai fasilitator yang mendorong siswa untuk inovatif dengan memakai sumber berguru variatif.

Sumber berguru variatif itu tidak harus mahal, tapi anak dapat kreatif dan punya banyak gagasan. Untuk itu, kami juga menambahkan training administrasi sekolah yang transparan, akuntabel, dan partisipatif dalam melibatkan komite sekolah, pengawas sekolah, dan wali murid (masyarakat),” ujarnya.
Peserta training bediskusi mencari format pembelajaran yang menarik serta menggali kreatifitas kurikulum 2013 maupun KTSP 2006, dikala mengikuti training yang dihelat oleh USAID Prioritas di Shangrila Surabaya, kemarin.
Kepala SMPN 2 Batu, Barokah Santoso, mengaku senang dengan training USAID-PRIORITAS alasannya ialah dirinya mendapat dua bekal, yakni cara menjadi pendamping guru dalam pembelajaran dan administrasi sekolah. ”Kesan saya, training ini mengajarkan kepada kita bahwa KTSP atau Kurikulum 2013 itu tidak ada artinya tanpa penemuan pembelajaran. Inovasi pembelajaran itu mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari,” katanya.

Senada dengan itu, Guru SD Temas 1 Batu Dian Tri W menyatakan, PAKEM (CTL) mengajarkan pendekatan penting dalam pendidikan, yakni mendorong siswa untuk aktif secara kognitif, afektif, dan psikomotorik. ”Caranya melalui pembelajaran bermakna yang mendorong proses pembelajaran bermanfaat dalam kehidupan dan aplikatif. Untuk itu, perlu sumber berguru beragam, tapi tidak harus mahal,” katanya.

Ia mencontohkan pembelajaran proses jual beli dapat dikenalkan dengan memberi anak benda apa saja, namun diajak berdiskusi dengan mengaitkan pada kehidupan sehari- hari dikala belanja di toko, pasar, atau supermarket. Spesialis Komunikasi USAID- PRIORITAS Dian Kusuma Dewi menambahkan, di Lamongan, Jombang, Banyuwangi, dan Batu, merupakan empat kabupaten/kota yang menjadi kawan gres dari USAID-PRIORITAS sehingga sekarang ada 19 kabupaten/kota kawan USAID.

”Ke-19 kabupaten/kota kawan di Jatim mencakup 11 kabupaten/ kota yang menjadi kawan aktivitas USAID-PRIORITAS dan delapan kabupaten/kota menjadi kawan aktivitas DBE. Pada setiap kabupaten/kota kawan itu ada enam SD dan delapan Sekolah Menengah Pertama yang menjadi sekolah mitra. Totalnya 114 SD/MI dan 152 SMP/MTs se-Jatim,” katanya.

Untuk training instruktur (guru pendamping) tingkat provinsi di empat kabupaten/kota itu diikuti 15 fasilitator tingkat SD/MI dan 15 fasilitator tingkat SMP/MTs. Pelatihan tingkat SD/MI pada 3-10 Maret, sedangkan training tingkat SMP/MTs pada 6-13 Maret. (Soeprayitno) - (ftr)

Monday, October 7, 2019

Terbaik Sekolah Yang Menyenangkan Beri Pilihan Tantangan Bermakna Bagi Siswa

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Pembelajaran di sekolah akan efektif kalau seluruh siswa dalam proses belajarnya merasa senang, dan tentu saja ini didapatkan oleh siswa kalau sekolah sanggup menyajikan pembelajaran yang menyenangkan.

Sekolah menyenangkan bukan berarti semua kemudahan yang glamor di sekolah tentunya, namun kreatifitas dalam pembelajaranlah yang akan menimbulkan sekolah sebagai tempat yang nyaman bagi siswa untuk belajar.

Terkait dengan apa dan bagaimana ciri-ciri dari sekolah yang menyenangkan itu? Berikut admin share wacana kriteria dari sekolah yang menyenangkan yakni sekolah menyenangkan beri pilihan tantangan bermakna bagi siswa yang admin kutip dari situs Kemdikbud RI, selengkapnya sebagai berikut…

Sekolah menyenangkan ialah sekolah yang menawarkan tantangan bagi siswa. Dengan kata lain, sekolah yang menyenangkan sanggup diartikan sebagai wahana yang kondusif dan menyehatkan serta menawarkan pilihan tantangan yang bermakna bagi siswa.

Demikian disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan, pada program Penutupan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) tahun 2015, di Depok, Selasa (31/3/2015).

Mendikbud menyampaikan, salah satu prinsip sekolah menyenangkan ialah pembelajaran dengan ragam pilihan tantangan, di mana masing-masing siswa diberikan pilihan dan tantangan yang sesuai.

Dia mengimbau, semoga belum dewasa melihat sobat sebayanya sebagai individu-individu yang memiliki potensi yang bervariasi. Olimpiade Sains Nasional itu, kata beliau mengambil contoh, merupakan hal yang penting tetapi tumbuhkan juga kompetisi di bidang lainnya untuk diberi tempat. “Berikan ruang untuk memunculkan kreatifitas. Berikan ruang untuk memunculkan gagasan baru,” katanya.

Mendikbud mengungkapkan, prinsip sekolah menyenangkan selanjutnya ialah pembelajaran yang menawarkan makna. Pembelajaran ini, kata dia, berkhasiat untuk jangka panjang dan terkait dalam pemecahan masalah-masalah secara nyata. Dia mengajak para guru semoga sanggup merangsang siswanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang subtantif alasannya ialah pertanyaan subtantif sanggup mengarahkan pada inspirasi.

Hindari belum dewasa kita diajak menghafal teori tanpa menawarkan pemahaman pada belum dewasa wacana manfaat memperlajarinya,” ujarnya.

Mendikbud menginginkan, institusi pendidikan benar-benar menjadi wahana mencar ilmu yang baik. Prinsip yang mendasari sekolah menjadi menyerupai taman yang menyenangkan, kata dia, ialah semua ikut terlibat baik siswa, guru, orang tua, dan kepala sekolah.

Salah satu misalnya menghadirkan orang bau tanah ke sekolah untuk menceritakan pekerjaannya kepada anak-anak. Tak problem profesinya, kata dia, tetapi biarkanlah belum dewasa melihat orang bau tanah menceritakan pengalaman nyata. “Semua saling mendukung dan menjadi teladan bagi komunitasnya,” tuturnya.

Mendikbud menyebutkan, prinsip sekolah menyenangkan lainnya ialah pembelajaran yang relevan dengan kehidupan. Kita, kata dia, jangan mengajarkan belum dewasa hal yang tidak relevan dan jauh dari kehidupannya.

Dia mencontohkan, di suatu sekolah di tempat terpencil ada goresan pena di papan tulis yang menceritakan bagaimana cara berenang di bak renang, sementara di sekitar sekolah tersebut tidak ada bak renang. Yang ada ialah sungai. “Anak-anak diajak berimajinasi bak renang. "Kita sedang mengajak mereka menjadi orang kota. Tanpa disadari kita sedang mengotakan anak kita. dengan menyampaikan anda harus di bak renang sana,” ucapnya. (Agi Bahari – www.kemdikbud.go.id)